Blognya Bunda Ze

Tempat Bunda belajar menulis sekaligus berbagi….

Santai dan enjoy mendidik anak

on April 28, 2013

Sebagai stay at home mom (SaHM), yang hampir 24 jam/7 hari selalu bersama anak2, gak mau dong saya hanya menjadi terlalu sibuk sama urusan pekerjaan rumah tangga yg ga ada habisnya atau jadi sekedar pengasuh a.k.a babysitter anak2. Sejak awal saya memutuskan jadi SaHM hingga sekarang, tekad saya masih sama, yaitu saya menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak2 saya.
Saya ingin sayalah yang pertama kali mengajari mereka shalat, mengaji, membaca, menulis, dll. Saya ingin dari saya dan bersama sayalah anak2 mendapat banyak pengetahuan. Ada perasaan bahagia dan bangga, ketika anak saya (Shaznin) bisa melakukan sesuatu atau memahami sesuatu, dan ketika saya tanya, “Shaznin tau darimana? Siapa yg ngajarin?”Shaz menjawab, “Dari bunda. Kan bunda yang ngajarin.”

Saking ‘egoisnya’ saya utk hal ini, kalau Shaznin misalnya tahu/bisa sesuatu dari gurunya, saya langsung merasa ‘iri’ sekaligus terpecut untuk mendidik lebih baik lagi. Bagi saya, guru adalah partner, pelengkap kekurangan saya dalam mendidik anak. Ketika saya tidak bisa menggambar dan ketrampilan tangan, barulah saya berharap guru yang mengajarkan. Tapi ketika saya merasa saya bisa mengajarkan anak saya baca Al Qur’an misalnya , saya ingin sayalah yang pertama mengajarkan. Sementara guru di sekolah ‘membantu’ saya menjadikan anak semakin lancar membaca Al Qur’an.

Bagi saya, yang merasa diri ini nggak telaten, nggak sabaran, mudah stres (emosi) dan berasa ribet sendiri ngurus dua balita, mewujudkan tekad sbg pendidik utama yang penuh kasih sayang itu amatlah tidak mudah. Saya harus menemukan metode sendiri untuk mendidik anak2 saya. Hingga akhirnya saya menyadari bahwa gaya ‘santai’ inilah yang paling cocok dengan saya.

Kenapa saya sebut dengan gaya ‘santai’? Karena dengan cara ini saya gak membebani diri saya dengan target2, gak mewajibkan diri saya untuk membuat kurikulum atau bahkan raport/laporan kemajuan anak. Semua saya lakukan dengan cara santai dan enjoy. Bukankah apa yang dirasakan orangtua juga bisa dirasakan anak? Tujuannya adalah menjadikan anak selalu santai dan enjoy ketika belajar.

Jadi, apa yang saya lakukan dalam mendidik/mengajarkan anak dengan gaya santai ini?

Pertama, memberi stimulasi/pancingan/penarik. Stimulasi yang sering saya lakukan adalah dengan memberi contoh. Misalnya, saya ingin Shaznin (sulung saya berusia 4 tahun) bisa huruf Hijaiyah. Awalnya, sehari2 saya sering ‘menyanyikan’ huruf Hijaiyah dengan melodi lagu Balonku. Hanya butuh waktu sebentar untuk membuat Shaznin mulai menunjukkan ketertarikannya atau bahkan mulai mengikuti saya. Saat itu, barulah saya lebih intensif mengajarinya. Dan memang, ketika anak sudah tertarik, mengajarkan anak menjadi lebih mudah bagi saya. Anak pun bisa menikmati proses belajarnya. Hasil positifnya juga lebih cepat diperoleh. Cocok banget kan buat tipe ibu gak sabaran dan gampang stres seperti saya?

Kedua, penjelasan spontan. Contoh, kami melihat semut2 yang sedang mengangkut makanan yang terjatuh di lantai. Saya lalu secara spontan menjelaskan kpd Shaznin bahwa semut2 yang ini adalah semut pekerja. Mereka akan bekerjasama membawa makanannya ke sarang semut yang ada di bawah tanah. Nanti makanannya dimakan bersama2, krn semut suka berbagi, dst.

Dari ‘semut’, kita bisa mengajarkan anak ilmu ttg semut itu sendiri (IPA/Biologi) sekaligus memotivasi anak utk mau bekerjasama/gotong royong dan semangat berbagi. Masih gara2 semut, bisa disambungkan juga ke kisah Nabi Sulaiman yang mengerti bahasa hewan, termasuk semut dan menghentikan pasukan berkudanya krn ada sekumpulan semut yang mau lewat.

Tanpa kita sadari banyak juga ilmu pengetahuan yang kita transfer ke anak. Dan mereka menerimanya dalam keadaan santai juga enjoy.

Oiya, sering juga saya hanya mampu memberi penjelasan yang singkat, hanya satu kalimat. Dan Shaznin biasanya bertanya lebih lanjut. Kalau saya tidak tau /tidak yakin dengan jawabannya, saya akan berkata jujur bahwa bunda belum tau, nak. Nanti kita cari jawabannya di internet ya. Lalu, kamipun asyik belajar bersama melalui internet.

Hmmm…sepertinya memang cuma dua itu saja yang saya lakukan. Mudah/susahnya memang relatif. Kalau saya, yang susah adalah memberi contoh, terutama berkaitan dengan kelemahan saya. Pengen anak jadi anak yang sabar, tapi emaknya gak sabaran. Yaa, mudah2an urusan sabar ini anak2 lebih nyontoh ayahnya🙂. Tapi, bukankah menjadi orangtua sekaligus pendidik yang penyayang adalah long live learning? Ketika kita mengajarkan anak, kita sendiri harus memacu diri kita untuk belajar.

Satu ‘kunci’ dalam mendidik anak dg menerapkan gaya santai ini adalah tidak membanding2kan, apakah itu anak kita dengan anak lain, atau antara anak2 kita. Harus disadari betul bahwa setiap anak unik, memiliki kemampuan yang berbeda. Anak kita baru bisa baca umur 4 tahun, eh anak tetangga dah bisa baca dari umur 3 tahun. Atau, anak kita lama banget bisa nulisnya, sementara anak temen sekolahnya cepet bisa nulis, padahal mulai belajarnya sama2. Membanding2kan lalu merasa anak kita ‘kalah’, hanya akan membuat kita stres. Efeknya, ngajarin anak maunya anak langsung bisa, geregetan kalo anak ga bisa2 dan malah ngajar sambil ngomel2. Ini udah gak santai dan enjoy lagi namanya. Tapi,kalau tujuannya untuk memotivasi kita menjadi lebih kreatif dan lebih rajin untuk mendidik anak2, menurut saya melakukan pembandingan boleh2 saja. Jadi, pembandingan ini ‘pelecut’ hanya buat orangtuanya, bukan buat anaknya.

‘Kunci’ yang lain lagi, adalah selalu tunjukkan ‘kegembiraan’ jika anak menunjukkan progress, sekecil apapun itu. Bersorak, memeluk, mencium, memuji atau memberi hadiah, membuat anak merasa bahwa belajar lalu menjadi bisa/tahu itu menyenangkan. Kalau anak belum menunjukkan kemajuan, jangan dikritik atau dimarahi ya.

Sebagai orangtua ‘santai’, saya baru ‘lebih rajin’ mengenalkan ke anak ttg berbagai pengetahuan ini ketika usia anak saya sudah 3 tahun lebih. Ketika saya lihat dia sudah mulai kritis dan banyak bertanya. Sebelumnya, saya hanya lebih sering mengajaknya bermain, bermain dan bermain, juga bernyanyi dan membaca. (bermain ditulis 3x, saking lebih sering mainnya drpd yg lain hehe).

Kalau ibu2/bapak2 (yang baca tulisan ini) punya anak lebih dari 1 dengan beda usia yang tidak terlalu jauh, gaya santai ini memberi ‘keuntungan’ satu lagi. Secara gak sadar, kita juga sedang mengajarkan adiknya. Anak saya yang kedua, adek Ziqri (usia 2 tahun) yang keliatannya cuek, mondar-mandir dan sibuk main sendiri ketika saya mengajarkan kakaknya, ternyata ‘menyerap’ juga. Apalagi dia lagi fase ‘membeo’. Adalah bahagia ketika ujug2 si adik ngambil buku tahsin kakaknya dan dia membaca huruf hijaiyah, “..ba..ta…ah…okh..” (hihihi…ini maksudnya ha, kho).

Ok deh. Kalau boleh saya simpulkan dari apa yang sudah saya tulis disini, mendidik anak dengan santai dan enjoy ala saya adalah :

1. Gak pasang target (atau buat target yg fleksibel, gak muluk2. Lihat kemampuan anak)
2. Gak pake kurikulum, kebanyakan spontan.
3. Gak pake raport (diinget2 aja. seringnya yang inget malah anaknya. “Bunda kan udah pernah ngajarin/ngasih tau itu.” hehe)
4. Stimulasi, paling efektif kalo kita mencontohkan.
5. Penjelasan spontan
6. Tidak membandingkan
7. Reward berupa sorak bahagia, pelukan, cium, dll.

Monggo, kalau ada ibu2 yang mau ngikutin gaya santai saya ini (GeeR :p). Silakan dimodifikasi sesukanya sesuai sikon, sifat dan karakter. Semoga kita berhasil menjadi pendidik pertama dan utama yang penyayang kepada anak2. Aamiin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RedCarra's Notes

Journal of Creative Writing, Blogging, Graphic Design and Daily Life

MAMAKU KOKI HANDAL !

walaupun masakan mama nggak sekece masakan koki hotel bintang 5, tapi masakan mama tetap paling penuh cinta. aku cinta masakan mamaku!

ruang cerita shant

apa adanya bukan seadanya

CENDEKIA

Kids and Junior Science Center

Syauqiya

My Life, My inspiration

Ellina Supendy

My Life and My World

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Dina Y. Sulaeman

About Life, Parenting, and Motherhood

catatan mama nisa

Jadi Ibu di Jepang.

Mencoba Sakinah

----- Keluarga KamiL -----

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Enlighten & Empower

Which of your Lord's Blessings would you deny...

miapiyik

A topnotch WordPress.com site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

(new) Mbot's HQ

Ocehan gak guna seorang pegawai kantoran biasa.

teman imaji

Invisible yet not Impossible. I exist.

%d bloggers like this: