Blognya Bunda Ze

Tempat Bunda belajar menulis sekaligus berbagi….

Ketika Bunda Menghadapi Tantrum

on January 22, 2013

[Ini adlh ‘edited version’ dr Bunda vs Tantrum (1) dan (2)]

Dalam dunia parenting dikenal adanya istilah temper tantrum. Kalau definisi saya sih begini: tingkahlaku/perbuatan marah2 sambil nangis teriak2 yang biasanya dilakukan anak2 usia balita.
Kali ini saya pengen cerita pengalaman pribadi saya menghadapi tantrumnya Shaznin, sulung saya yg berusia 3,5 th.
Sebelum kita ngomongin cara menghadapi tantrum, kita harus tau dulu penyebab anak tantrum. Kalau dr pengalaman saya, anak tantrum kalau:
1. Keinginannya tidak kita penuhi.
2. Kesenangannya dihentikan secara semena2 oleh kita. Anak lagi asik main air, kita langsung angkat. Anak lagi nonton tv, kita langsung matiin.
3. Ngantuk dan lelah.Kalo ini penyebab tantrum, saya cuma bisa kasih satu solusi: ajak anak tidur/istirahat🙂.
Penyebab 1 dan 2 seharusnya bisa dihindari dengan komunikasi yang baik. InsyaAllah cerita ttg komunikasi di lain jurnal aja ya, sekarang cerita ttg tantrum dulu🙂.

Jadi, beginilah saya menghadapi tantrum anak saya:
1. Saya bicara dengan nada tenang kepada anak saya, “Bicaranya baik2, diam dulu, lalu bicara sama bunda baik2” atau “Ngomong baik2, mbak. Kalau sambil nangis dan teriak2 bunda ga ngerti.” Sambil ngomong begitu saya menghadap anak saya (saya tatap matanya dan kalau dia menghindar dr tatapan mata saya, biasanya saya minta dia utk melihat saya), posisi sejajar (saya berlutut) dan kadang ada sentuhan. Bisa dengan memegang tangannya atau elus2 pipi/rambutnya. Kalau tantrumnya masih level rendah, cara pertama ini langsung ampuh. Ketika dia tenang kami langsung berdiskusi ttg apa yg diinginkannya dan saya menjelaskan knapa sy tdk membolehkannya. Intinya, negosiasi, win-win solution, anak senang, bunda jg senang.

2. Diam atau lakukan aktivitas yg ingin dilakukan / sdh anda lakukan sebelum anak tantrum.
Kalau level tantrum sdh menengah ke tinggi, anak sy akan menangis lbh keras jika disuruh bicara baik2. Kalau saya memaksa memberi penjelasan dlm keadaan dia menangis keras, percuma. Dia tidak mau dengar, pdhl volume suara sy sdh makin tinggi. Dia juga akan meninggikan volume tangisan dan teriakannya. Saat itulah saya memutuskan untuk diam. Jika saya sedang menyusui adiknya, saya lbh suka memejamkan mata saya. Kalau saya lagi masak, sy tetap masak. Aksi diam ini bukannya sekedar diam, tp saya berusaha mengirimkan pesan melalui bhs kalbu sya bhw bunda ingin bicara baik2 denganmu, nak. Sambil diam ini jg saya sambil berpikir apakah saya sudah benar utk tidak memenuhi keinginannya? Apakah yg saya larang adalah sesuatu yg memang benar2 hrs saya larang atau sebenarnya bisa saya kasih izin dg syarat2 tertentu. Saya juga berpikir akan kata2 baik yg harus dikeluarkan ketika kami akhirnya bicara. Sebelum/ketika sedang berlangsung aksi diam ini, saya jg memberitahu dia lg bhwa saya baru akan bicara lagi dengannya kalau dia sudah mau diam, berhenti menangis teriak2 dan mau mendengarkan.

3. Time Out
Anak belum juga mau diam dan mereda. Dia malah semakin marah dg aksi diam kita. Kita merem, dia teriak, “Jangan mereeemm, jangan tiduuur”. Kita masak, makan, ke kamar mandi, dll, dia mengikuti dan meraung2 disebelah kita. Kadang sambil narik2 baju atau ada juga anak yg suka pukul/tendang. Biasanya situasi seperti ini membuat ibu terpancing emosi, bawaannya pengen nyubit, pengen bentak. Nah, inilah waktunya time out. Time out versi saya adalah memisahkan kami berdua. Caranya time out, saya mendudukkan Shaznin di kursi khusus, menyuruhnya tetap duduk disitu sampai tenang baru kami bicara sementara saya di ruangan lain. Apakah anak akan langsung diam dan tenang? Ooo, tentu tidak. Dia akan mengamuk, teriak2, mencoba berlari mengejar kita. Di saat itulah konsistensi kita sedang diuji. Apakah kita bertahan dg time out itu atau kita luluh dg teriakan dan tangisnya yg semakin memilukan dan menyayat hati. Jujur, gak tega. Tp saya hrs menunjukkan bhw ketika saya mensyaratkan dia utk tenang agar bisa bicara, itu adalah syarat serius, bkn ancaman, bkn gertakan yg segera luluh dengan tangisannya. Supaya anak juga bisa mengerti bahwa untuk mendapatkan keinginannya, bukanlah dg menangis teriak2 melainkan dg bicara baik2. Oiya, time out ini juga ada wktnya ya. Pernah baca kalau sebaiknya time out adalah selama beberapa menit sesuai usia anak. Jd kalo Shaznin usia 3,5 th, sy kasih time out 3,5 menit. Kalau wkt time out sudah habis dan dia blm juga reda, sy akan bertanya, “Sudah siap bicara sama bunda?”. Jika tanggapannya masih dg tangis teriakan, saya tambah 3,5 menit lg. Alhamdulillah biasanya ga perlu nunggu time out kedua habis, Shaznin sudah mau tenang.

4. Kembali bicara baik2
Saat anak sudah tenang, ibunya jg tenang, inilah saatnya bicara. Biasanya saya mulai dg mengajak Shaznin berpelukan meski Shaznin sering menolaknya. Maklum meski sdh tenang, dia masih ‘marah’ dg saya. Saya ambil posisi sejajar dengannya, menatap matanya, dan saya pegang tangannya. Saya memberi penjelasan, kami bernegosiasi dengan baik2. Jika penyebab tantrumnya sy sadari adalah kesalahan saya, saya minta maaf lalu mengajaknya berpelukan lagi dan kasih dia ciuman.

Begitulah pengalaman saya menghadapi tantrum. Alhamdulillah sy lihat Shaznin sdh mulai mengerti. Kalau dia mau marah/nangis, dia bisa langsung tenang jika saya memintanya bicara baik2. Kalau akhirnya tantrum dan sampai time out, Shaznin cepat menyadari bhw dia hrs bicara baik2 jika ingin time out berakhir. Saya percaya bhw kami berdua sama2 belajar berkomunikasi dan kami sedang berproses menuju yang lbh baik.


2 responses to “Ketika Bunda Menghadapi Tantrum

  1. Ika Rahma says:

    Sangat berguna mbak🙂, makasih yaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RedCarra's Notes

Journal of Creative Writing, Blogging, Graphic Design and Daily Life

MAMAKU KOKI HANDAL !

walaupun masakan mama nggak sekece masakan koki hotel bintang 5, tapi masakan mama tetap paling penuh cinta. aku cinta masakan mamaku!

ruang cerita shant

apa adanya bukan seadanya

CENDEKIA

Kids and Junior Science Center

Syauqiya

My Life, My inspiration

Ellina Supendy

My Life and My World

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Dina Y. Sulaeman

About Life, Parenting, and Motherhood

catatan mama nisa

Jadi Ibu di Jepang.

Mencoba Sakinah

----- Keluarga KamiL -----

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Enlighten & Empower

Which of your Lord's Blessings would you deny...

miapiyik

A topnotch WordPress.com site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

(new) Mbot's HQ

Ocehan gak guna seorang pegawai kantoran biasa.

teman imaji

Invisible yet not Impossible. I exist.

%d bloggers like this: