Blognya Bunda Ze

Tempat Bunda belajar menulis sekaligus berbagi….

Tentang Kebencian

on December 15, 2012

Saya pernah teramat benci dengan orang. Alasan kebencian saya, karena tingkah laku perbuatan mereka.

Kebencian yg saya rasakan membuat saya tidak bisa objektif. Apapun yg mereka lakukan, saya anggap jelek. Bahkan jika itu suatu perbuatan yang baik2 saja, di mata saya akan selalu kelihatan jelek. Saya akan selalu mencari2 kesalahan mereka. Ketika berpapasan dengan mereka, saya merasa tidak perlu berbicara, muka tegang (jutek,cemberut) dan sebisa mungkin menghindar.

Melelahkan…. yup, kebencian itu amat melelahkan. Ketika saya menyadari tidak seharusnya membenci dan saya menurunkan rasa benci itu sampai akhirnya hilang, barulah saya menyadari bahwa kebencian telah menguras energi saya.

Hati ini bahkan raga saya ini terasa lebih ringan, lebih tenang dan pastinya lebih sehat ketika kebencian itu lenyap dari dalam diri saya. Saya bisa melihat kebaikan mereka. Saya bisa tersenyum ketika berpapasan. Subhanallah ya, senyum ini memang ‘meringankan’ dan menyejukkan hati. Beda banget ketika saya pasang tampang jutek/cemberut….energi yg dikeluarkan sepertinya lebih besar dibandingkan jika saya tersenyum.

Jadi sebenarnya memendam kebencian itu rugi banget ya. Pahala ga dapet, yg ada jiwa ga sehat, capek, ke fisik jg bisa ngaruh.

Tapi kenapa orang zaman sekarang pada sibuk menebar kebencian ya?
Saya setuju jika kita membenci perbuatan maksiat, perbuatan tidak beradab dan perbuatan negatif lainnya. Tapi haruskah diiringi dengan membenci orang2 pelakunya bahkan sampai menghina dina, mencela, mencaci maki, mengolok2?

Tidakkah kita menyadari bahwa orang2 pelaku perbuatan yg salah itu juga punya keluarga dan sanak saudara yang mungkin jg sedih dan sakit hatinya?
Tidakkah kita mencoba berfikir, bahwa yg kita olok2, hina dan caci itu mungkin saja jauh lebih baik drpd kita yg mengolok, menghina dan mencaci?
Mungkin saja dia serta merta bertaubat, memperbaiki diri dan memperbanyak ibadah sehingga Allah menggugurkan dosa2nya, semntara kita yg asyik mengolok justru menabung dosa. Dosa mengolok2, dosa berghibah (kalo mengolok2 paling asyik bareng2 kan?)…..
Naudzubillah min dzalik…..

Rugi sekali…teramat rugi menghabiskan energi untuk sesuatu yang hanya akan menambah berat timbangan dosa kita.

Untuk yang baca tulisan ini, yuukk kita sama2 belajar untuk tidak mudah membenci orang, menularkan kebencian itu dan tidak mudah pula mengolok2.


5 responses to “Tentang Kebencian

  1. Lusi says:

    Setuju. Buang jauh2 kebencian.

  2. Rahmi Aziza says:

    pernah juga ngerasainnya bun… jadi habis waktu mikirin orang itu n ngintipin timeline FB nya hehehe

  3. Al - Adam Mukminin says:

    Saya Setuju Sekali Dengan Blog Ini,Kuncinya Kita Itu Harus Sabar Dan Tenang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RedCarra's Notes

Journal of Creative Writing, Blogging, Graphic Design and Daily Life

MAMAKU KOKI HANDAL !

walaupun masakan mama nggak sekece masakan koki hotel bintang 5, tapi masakan mama tetap paling penuh cinta. aku cinta masakan mamaku!

ruang cerita shant

apa adanya bukan seadanya

CENDEKIA

Kids and Junior Science Center

Syauqiya

My Life, My inspiration

Ellina Supendy

My Life and My World

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Dina Y. Sulaeman

About Life, Parenting, and Motherhood

catatan mama nisa

Jadi Ibu di Jepang.

Mencoba Sakinah

----- Keluarga KamiL -----

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Enlighten & Empower

Which of your Lord's Blessings would you deny...

miapiyik

A topnotch WordPress.com site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

(new) Mbot's HQ

Ocehan gak guna seorang pegawai kantoran biasa.

teman imaji

Invisible yet not Impossible. I exist.

%d bloggers like this: