Blognya Bunda Ze

Tempat Bunda belajar menulis sekaligus berbagi….

Bunda vs Tantrum (1)

on November 11, 2012

Dalam dunia parenting dikenal adanya istilah temper tantrum. Definisi ilmiahnya monggo ibu2 googling sendiri ya🙂. Kalau definisi saya sih begini: tingkahlaku/perbuatan marah2 sambil nangis teriak2 yang biasanya dilakukan anak2 usia balita.

Kayaknya anak2 itu memang ada masanya ya tantrum. Jadi, mungkin setiap orangtua pernah ngalamin menghadapi anak yg tantrum. Coba ya yang anaknya ga pernah tantrum tunjuk tangan. Sharing dooong🙂.

Kali ini saya pengen cerita pengalaman pribadi saya menghadapi tantrumnya Shaznin, sulung saya yg berusia 3,5 th.
Awalnya, saya mengenal tantrum ketika saya nonton acara Nanny 911 dulu di tv swasta. Kebanyakan kasusnya memang masalah anak2 yg tantrum dan ga bisa dikendalikan oleh orangtuanya. Saya perhatikan cara dan solusi utk mengatasi tantrum oleh para super nanny itu. Dan ternyataaa…pas prakteknya syusyah banget ya. Apalagi buat ibu yang gak sabaran model saya :p.
Jujur, saya butuh melewati beberapa kali tantrum sampai akhirnya menemukan cara yang so far saya anggap paling pas utk menanganinya.

Ok, sebelum kita ngomongin cara menghadapi tantrum, kita harus tau dulu penyebab anak tantrum. Kalau dr pengalaman saya, anak tantrum kalau:

1. Keinginan anak yang tidak kita penuhi. Anak mau bermain dg kita, kita mau tidur. Anak mau eskrim sekarang, kita maunya nanti setelah dia makan, anak mau main air kita larang, dll.

2. Kesenangannya dihentikan secara semena2 oleh kita. Anak lagi asik main air, kita langsung angkat. Anak lagi nonton tv, kita langsung matiin. Anak lg asyik ngeberantakin mainan, kita lgs beresin tanpa babibu, dll.

3. Ngantuk dan lelah. Hmm, siapa sih yang ga cepet emosi kalo lg ngantuk dan lelah? Kalo ini penyebab tantrum, saya cuma bisa kasih satu solusi: ajak anak tidur/istirahat🙂.

Penyebab 1 dan 2 seharusnya bisa dihindari dengan komunikasi yang baik. Tapi ternyata komunikasi ortu anak ini adalah bagian tersulit di dalam episode pengasuhan anak. InsyaAllah cerita ttg komunikasi di lain jurnal aja ya, sekarang cerita ttg tantrum dulu🙂.

Jadi, beginilah saya menghadapi tantrum anak saya:

1. Saya bicara dengan nada tenang kepada anak saya, “Bicaranya baik2,…diam dulu, lalu bicara sama bunda baik2” atau “Ngomong baik2, mbak. Kalau sambil nangis dan teriak2 bunda ga ngerti.” Sambil ngomong begitu saya menghadap anak saya (saya tatap matanya dan kalau dia menghindar dr tatapan mata saya, biasanya saya minta dia utk melihat saya), posisi sejajar (saya berlutut) dan kadang ada sentuhan. Bisa dengan memegang tangannya, atau elus2 pipi/rambutnya. Kalau tantrumnya masih level rendah, cara pertama ini langsung ampuh. Ketika dia tenang kami langsung berdiskusi ttg apa yg diinginkannya dan saya menjelaskan knapa sy tdk membolehkannya. Intinya, negosiasi, win-win solutin, anak senang, bunda jg senang.

2. Diam atau lakukan aktivitas yg ingin dilakukan / sdh anda lakukan sebelum anak tantrum.
Kalau level tantrum sdh menengah ke tinggi, anak sy akan menangis lbh keras jika disuruh bicara baik2. Kalau saya memaksa memberi penjelasan dlm keadaan dia menangis keras, percuma. Dia tidak mau dengar, pdhl volume suara sy sdh makin tinggi. Dia juga akan meninggikan volume tangisan dan teriakannya. Saat itulah saya memutuskan untuk diam. Jika saya sedang menyusui adiknya, saya lbh suka memejamkan mata saya. Kalau saya lagi masak, sy tetap masak. Saya lagi makan, saya lnjutkan makan saya. Aksi diam ini bukannya sekedar diam, tp saya berusaha mengirimkan pesan melalui bhs kalbu sya bhw bunda ingin bicara baik2 denganmu, nak. Sambil diam ini jg saya sambil berpikir apakah saya sudah benar utk tidak memenuhi keinginannya? Apakah yg saya larang adalah sesuatu yg memang benar2 hrs saya larang atau sebenarnya bisa saya kasih izin dg syarat2 tertentu. Saya juga berpikir akan kata2 baik yg harus dikeluarkan ketika kami akhirnya bicara. Sebelum/ketika sedang berlangsung aksi diam ini, saya jg memberitahu dia lg bhwa saya baru akan bicara lagi dengannya kalau dia sudah mau diam, berhenti menangis teriak2 dan mau mendengarkan.

Tahap selanjutnya nyambung di posting berikutnya ya….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RedCarra's Notes

Journal of Creative Writing, Blogging, Graphic Design and Daily Life

MAMAKU KOKI HANDAL !

walaupun masakan mama nggak sekece masakan koki hotel bintang 5, tapi masakan mama tetap paling penuh cinta. aku cinta masakan mamaku!

ruang cerita shant

apa adanya bukan seadanya

CENDEKIA

Kids and Junior Science Center

Syauqiya

My Life, My inspiration

Ellina Supendy

My Life and My World

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Dina Y. Sulaeman

About Life, Parenting, and Motherhood

catatan mama nisa

Jadi Ibu di Jepang.

Mencoba Sakinah

----- Keluarga KamiL -----

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Enlighten & Empower

Which of your Lord's Blessings would you deny...

miapiyik

A topnotch WordPress.com site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

(new) Mbot's HQ

Ocehan gak guna seorang pegawai kantoran biasa.

teman imaji

Invisible yet not Impossible. I exist.

%d bloggers like this: