Blognya Bunda Ze

Tempat Bunda belajar menulis sekaligus berbagi….

[Sharing Parenting] Shaz dan periode ‘ngeyel’

on September 11, 2012

Ketika kita merasa anak kita sudah mulai ‘susah’ diatur, ketika mulai sering beragumentasi thd apa yg kita katakan, ketika kita bilang A dia keukeuh maunya B, ketika kita menjadi sering ‘sakit kepala’ krn anak kita….. what would we do?

Shaznin (3,5 tahun) sedang berada dalam periode ini. Banyak orang bilang usia 2-4 tahun adalah masanya “terrible twos”. Katanya, usia2 segini nih lagi mulai2nya nyebelin, nyusahin dan menguji kesabaran. Alhamdulillah, saya menemukan tulisan mbak Fanny disini Terrible twos katanya yg memotivasi saya utk lbh suka melihat periode ‘ngeyel’ ini sebagai periode pelatihan banyak aspek dalam sisi psikologisnya. Anak sedang melatih kemandiriannya. Anak sedang mengobservasi pengaruh dirinya thd lingkungannya. Anak sedang melatih kemampuan diplomasinya. Intinya, anak sedang meletakkan pondasi bagi kepercayaan dirinya. (Quote favorite saya dr tulisannya mbak Fanny)

Dengan keyakinan dlm diri saya bhw anak saya sedang melalui periode ‘positif’, saya pun berusaha utk mensyukurinya dengan reaksi positif pula. Tidak mudah memang, apalagi kalau saya lg ribet juga sama urusan adeknya, atau ketika saya sedang teramat lelah. Itu emosi langsung bawaannya mau meledak-ledak. Tapi, memang jika ingin menjadi ibu yg sempurna (setidaknya dlm ukuran manusia) selalu harus belajar dan berusaha kan?

Reaksi positif yg sy lakukan adalah dg mengajak Shaznin berdialog.Dialog utk mengetahui apa sebenarnya yg diinginkan dan dirasakan anak, juga apa pendapatnya tentang sesuatu hal. Saya percaya kalau dialog adalah kunci komunikasi yg baik dan perekat hubungan antara orangtua-anak sampai anak dewasa nanti. Dalam dialog hampir selalu ada adu argumentasi dan juga negosiasi. Negosiasi antara saya dan shaznin biasanya seputar pemberian reward.

Ngomong2 tentang dialog dan teman2nya ini, saya sempet dibuat bingung sama Shaznin yg gak mau diajak berbicara. Setiap saya tanya, “Kenapa?”, Shaz ga menjawab. Shaz juga tidak tertarik sama reward apapun yg saya tawarkan. Selama beberapa hari, Shaznin seperti tidak mempedulikan omongan saya. Saya bilang begini, dia maunya begitu. Sikapnya yg seperti itu ditambah hilangnya kemandirian dia, apa2 mnta tolong bunda bahkan untuk sesuatu hal yg bisa dia lakukan sendiri, tentunya membuat saya kerja keras menahan emosi sekaligus menahan lelah. Hingga suatu malam menjelang tidur…….

Shaznin belum juga memakai baju tidurnya. Padahal baju tidurnya sdh saya siapkan. Dia malah tiduran disamping saya dan ga mau ambil bajunya. “Bunda aja yang ambil,” begitu Shaz nyeletuk. Iseng saya menyuruh adek mengambilkan dan ternyata adek berbaik hati mengambilkan baju mbaknya. Spontan saya peluk dan cium adek, saya puji, “adek pinteeer”. Lalu, “Ayo sekarang mbk pake baju sendiri, kan sudah diambilin adek. Nanti bunda cium dan peluk juga”
Subhanallah, tanpa saya sangka, Shaznin tanpa babibu langsung memakai bajunya sendiri. Shaz pun tampak riang ketika ciuman sy mendarat di pipinya disertai pelukan.

Ya Allah, sungguh yg bersuara dlm hati saya bukannya gembira krn akhirnya berhasil menemukan reward yg diinginkannya. Tapi, saya terkejut sekaligus sedih. Sedih ketika menyadari bahwa saya, yg menganggap diri saya ini romantis, hangat, sentimentil, penuh perasaan, ternyata justru mengabaikan perasaan anak saya sendiri. Saya lupa, bahwa saya sudah teramat jarang mencium dan memeluknya sejak ada adiknya. Saya lupa, kalau keadilan yg saya berikan hanya seputar pemberian makanan dan mainan, tp bukan untuk kehangatan. Saya tidak menyadari, bahwa kasih sayang itu tidak selamanya berupa memberi stiker ‘bintang’, membelikan baju baru, membelikan buku atau mainan, dan mengajak jalan2, melainkan cukup dg pelukcium.

Ya Allah, ampuni hamba….yang telah lalai ini….

***
Beberapa hari terakhir, Shaz memang masih suka ‘ngeyel’…which is normal kan? Lagi belajar ‘mempengaruhi’🙂 Yang berbeda, kalau ia mau melakukan sesuatu yg dia tau akan menyenangkan bundanya, dia akan berkata, “Nin berarti boleh dicium dan dipeluk kan, bunda?”
Huhuhu….maafin bunda ya, nak…Bunda janji, apapun yg Shaznin lakukan, apakah itu menyenangkan atau membuat bunda ‘sakit kepala’, bunda akan selalu mencium dan memelukmu. Coz my love for u is unconditional.


3 responses to “[Sharing Parenting] Shaz dan periode ‘ngeyel’

  1. hensamfamily says:

    ada kalanya kita menerapkan standar orang dewasa ketika menghadapi anak-anak kita. padahal harusnya kita yang dengan bijak menyesuaikan diri dengan standar anak-anak kita. Terima kasih atas sharingnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RedCarra's Notes

Journal of Creative Writing, Blogging, Graphic Design and Daily Life

MAMAKU KOKI HANDAL !

walaupun masakan mama nggak sekece masakan koki hotel bintang 5, tapi masakan mama tetap paling penuh cinta. aku cinta masakan mamaku!

ruang cerita shant

apa adanya bukan seadanya

CENDEKIA

Kids and Junior Science Center

Syauqiya

My Life, My inspiration

Ellina Supendy

My Life and My World

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Dina Y. Sulaeman

About Life, Parenting, and Motherhood

catatan mama nisa

Jadi Ibu di Jepang.

Mencoba Sakinah

----- Keluarga KamiL -----

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Enlighten & Empower

Which of your Lord's Blessings would you deny...

miapiyik

A topnotch WordPress.com site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

(new) Mbot's HQ

Ocehan gak guna seorang pegawai kantoran biasa.

teman imaji

Invisible yet not Impossible. I exist.

%d bloggers like this: