Blognya Bunda Ze

Tempat Bunda belajar menulis sekaligus berbagi….

Santai dan enjoy mendidik anak

Sebagai stay at home mom (SaHM), yang hampir 24 jam/7 hari selalu bersama anak2, gak mau dong saya hanya menjadi terlalu sibuk sama urusan pekerjaan rumah tangga yg ga ada habisnya atau jadi sekedar pengasuh a.k.a babysitter anak2. Sejak awal saya memutuskan jadi SaHM hingga sekarang, tekad saya masih sama, yaitu saya menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak2 saya.
Saya ingin sayalah yang pertama kali mengajari mereka shalat, mengaji, membaca, menulis, dll. Saya ingin dari saya dan bersama sayalah anak2 mendapat banyak pengetahuan. Ada perasaan bahagia dan bangga, ketika anak saya (Shaznin) bisa melakukan sesuatu atau memahami sesuatu, dan ketika saya tanya, “Shaznin tau darimana? Siapa yg ngajarin?”Shaz menjawab, “Dari bunda. Kan bunda yang ngajarin.”

Saking ‘egoisnya’ saya utk hal ini, kalau Shaznin misalnya tahu/bisa sesuatu dari gurunya, saya langsung merasa ‘iri’ sekaligus terpecut untuk mendidik lebih baik lagi. Bagi saya, guru adalah partner, pelengkap kekurangan saya dalam mendidik anak. Ketika saya tidak bisa menggambar dan ketrampilan tangan, barulah saya berharap guru yang mengajarkan. Tapi ketika saya merasa saya bisa mengajarkan anak saya baca Al Qur’an misalnya , saya ingin sayalah yang pertama mengajarkan. Sementara guru di sekolah ‘membantu’ saya menjadikan anak semakin lancar membaca Al Qur’an.

Bagi saya, yang merasa diri ini nggak telaten, nggak sabaran, mudah stres (emosi) dan berasa ribet sendiri ngurus dua balita, mewujudkan tekad sbg pendidik utama yang penuh kasih sayang itu amatlah tidak mudah. Saya harus menemukan metode sendiri untuk mendidik anak2 saya. Hingga akhirnya saya menyadari bahwa gaya ‘santai’ inilah yang paling cocok dengan saya.

Kenapa saya sebut dengan gaya ‘santai’? Karena dengan cara ini saya gak membebani diri saya dengan target2, gak mewajibkan diri saya untuk membuat kurikulum atau bahkan raport/laporan kemajuan anak. Semua saya lakukan dengan cara santai dan enjoy. Bukankah apa yang dirasakan orangtua juga bisa dirasakan anak? Tujuannya adalah menjadikan anak selalu santai dan enjoy ketika belajar.

Jadi, apa yang saya lakukan dalam mendidik/mengajarkan anak dengan gaya santai ini?

Pertama, memberi stimulasi/pancingan/penarik. Stimulasi yang sering saya lakukan adalah dengan memberi contoh. Misalnya, saya ingin Shaznin (sulung saya berusia 4 tahun) bisa huruf Hijaiyah. Awalnya, sehari2 saya sering ‘menyanyikan’ huruf Hijaiyah dengan melodi lagu Balonku. Hanya butuh waktu sebentar untuk membuat Shaznin mulai menunjukkan ketertarikannya atau bahkan mulai mengikuti saya. Saat itu, barulah saya lebih intensif mengajarinya. Dan memang, ketika anak sudah tertarik, mengajarkan anak menjadi lebih mudah bagi saya. Anak pun bisa menikmati proses belajarnya. Hasil positifnya juga lebih cepat diperoleh. Cocok banget kan buat tipe ibu gak sabaran dan gampang stres seperti saya?

Kedua, penjelasan spontan. Contoh, kami melihat semut2 yang sedang mengangkut makanan yang terjatuh di lantai. Saya lalu secara spontan menjelaskan kpd Shaznin bahwa semut2 yang ini adalah semut pekerja. Mereka akan bekerjasama membawa makanannya ke sarang semut yang ada di bawah tanah. Nanti makanannya dimakan bersama2, krn semut suka berbagi, dst.

Dari ‘semut’, kita bisa mengajarkan anak ilmu ttg semut itu sendiri (IPA/Biologi) sekaligus memotivasi anak utk mau bekerjasama/gotong royong dan semangat berbagi. Masih gara2 semut, bisa disambungkan juga ke kisah Nabi Sulaiman yang mengerti bahasa hewan, termasuk semut dan menghentikan pasukan berkudanya krn ada sekumpulan semut yang mau lewat.

Tanpa kita sadari banyak juga ilmu pengetahuan yang kita transfer ke anak. Dan mereka menerimanya dalam keadaan santai juga enjoy.

Oiya, sering juga saya hanya mampu memberi penjelasan yang singkat, hanya satu kalimat. Dan Shaznin biasanya bertanya lebih lanjut. Kalau saya tidak tau /tidak yakin dengan jawabannya, saya akan berkata jujur bahwa bunda belum tau, nak. Nanti kita cari jawabannya di internet ya. Lalu, kamipun asyik belajar bersama melalui internet.

Hmmm…sepertinya memang cuma dua itu saja yang saya lakukan. Mudah/susahnya memang relatif. Kalau saya, yang susah adalah memberi contoh, terutama berkaitan dengan kelemahan saya. Pengen anak jadi anak yang sabar, tapi emaknya gak sabaran. Yaa, mudah2an urusan sabar ini anak2 lebih nyontoh ayahnya🙂. Tapi, bukankah menjadi orangtua sekaligus pendidik yang penyayang adalah long live learning? Ketika kita mengajarkan anak, kita sendiri harus memacu diri kita untuk belajar.

Satu ‘kunci’ dalam mendidik anak dg menerapkan gaya santai ini adalah tidak membanding2kan, apakah itu anak kita dengan anak lain, atau antara anak2 kita. Harus disadari betul bahwa setiap anak unik, memiliki kemampuan yang berbeda. Anak kita baru bisa baca umur 4 tahun, eh anak tetangga dah bisa baca dari umur 3 tahun. Atau, anak kita lama banget bisa nulisnya, sementara anak temen sekolahnya cepet bisa nulis, padahal mulai belajarnya sama2. Membanding2kan lalu merasa anak kita ‘kalah’, hanya akan membuat kita stres. Efeknya, ngajarin anak maunya anak langsung bisa, geregetan kalo anak ga bisa2 dan malah ngajar sambil ngomel2. Ini udah gak santai dan enjoy lagi namanya. Tapi,kalau tujuannya untuk memotivasi kita menjadi lebih kreatif dan lebih rajin untuk mendidik anak2, menurut saya melakukan pembandingan boleh2 saja. Jadi, pembandingan ini ‘pelecut’ hanya buat orangtuanya, bukan buat anaknya.

‘Kunci’ yang lain lagi, adalah selalu tunjukkan ‘kegembiraan’ jika anak menunjukkan progress, sekecil apapun itu. Bersorak, memeluk, mencium, memuji atau memberi hadiah, membuat anak merasa bahwa belajar lalu menjadi bisa/tahu itu menyenangkan. Kalau anak belum menunjukkan kemajuan, jangan dikritik atau dimarahi ya.

Sebagai orangtua ‘santai’, saya baru ‘lebih rajin’ mengenalkan ke anak ttg berbagai pengetahuan ini ketika usia anak saya sudah 3 tahun lebih. Ketika saya lihat dia sudah mulai kritis dan banyak bertanya. Sebelumnya, saya hanya lebih sering mengajaknya bermain, bermain dan bermain, juga bernyanyi dan membaca. (bermain ditulis 3x, saking lebih sering mainnya drpd yg lain hehe).

Kalau ibu2/bapak2 (yang baca tulisan ini) punya anak lebih dari 1 dengan beda usia yang tidak terlalu jauh, gaya santai ini memberi ‘keuntungan’ satu lagi. Secara gak sadar, kita juga sedang mengajarkan adiknya. Anak saya yang kedua, adek Ziqri (usia 2 tahun) yang keliatannya cuek, mondar-mandir dan sibuk main sendiri ketika saya mengajarkan kakaknya, ternyata ‘menyerap’ juga. Apalagi dia lagi fase ‘membeo’. Adalah bahagia ketika ujug2 si adik ngambil buku tahsin kakaknya dan dia membaca huruf hijaiyah, “..ba..ta…ah…okh..” (hihihi…ini maksudnya ha, kho).

Ok deh. Kalau boleh saya simpulkan dari apa yang sudah saya tulis disini, mendidik anak dengan santai dan enjoy ala saya adalah :

1. Gak pasang target (atau buat target yg fleksibel, gak muluk2. Lihat kemampuan anak)
2. Gak pake kurikulum, kebanyakan spontan.
3. Gak pake raport (diinget2 aja. seringnya yang inget malah anaknya. “Bunda kan udah pernah ngajarin/ngasih tau itu.” hehe)
4. Stimulasi, paling efektif kalo kita mencontohkan.
5. Penjelasan spontan
6. Tidak membandingkan
7. Reward berupa sorak bahagia, pelukan, cium, dll.

Monggo, kalau ada ibu2 yang mau ngikutin gaya santai saya ini (GeeR :p). Silakan dimodifikasi sesukanya sesuai sikon, sifat dan karakter. Semoga kita berhasil menjadi pendidik pertama dan utama yang penyayang kepada anak2. Aamiin.

Leave a comment »

Empat tahun usiamu, nak

Empat tahun usiamu, nak
empat tahun kamu menghiasi hidup bunda
menjadi penguat bunda di kala bunda melemah
menjadi pelipur lara bunda
menjadi guru bunda untuk selalu belajar

Empat tahun usiamu, nak
masihlah balita
tapi seringkali kamu bersikap dewasa
tahukah nak, bunda sering terharu mendengar tuturmu yang lembut ketika menasihati temanmu yang berbuat salah
atau, bagaimana dirimu membuat bunda bangga ketika kau mau mengalah meski kau menginginkan mainan yang sama.
atau, betapa bahagia bunda saat kau mengajak adikmu bermain, mengalihkan perhatiannya supaya adik tidak mengganggu bunda yang sedang shalat.

Empat tahun usiamu, nak
teman2 seumurmu masih dilayani ini itu.
Tapi kamu sudah begitu mandiri.
Meski, seringkali kau tiba2 berubah menjadi manja, apa2 maunya ditolong bunda.
Sayang, bunda tau kamu juga ingin seperti teman2mu, seperti adikmu.
Sekali2 kamu ingin diperlakukan seperti ‘anak kecil’.
Maafkan bunda ya nak, jika bunda belum pandai berlaku adil kepadamu
Maafkan bunda jika yang kau rasa, bunda selalu membantu adik, tp membiarkanmu melakukan apa2 sendiri.
Maafkan bunda karena belum cukup waktu memanjakanmu.

Empat tahun usiamu, nak
Bunda sadar, selama mengurus dan mendidikmu, bunda banyak melakukan kesalahan.
Maafkan bunda ya, nak.
Selalunya, setiap bunda meminta maaf kepadamu, kamu selalu menitikkan airmata. Kamu masih kecil namun begitu perasa.

Empat tahun usiamu, nak.
Mari kita berdoa bersama, memohon agar kamu jadi anak yang soleh, jadi anak yang tumbuh sehat dan bahagia.
Bunda juga mohonkan kepada Allah, agar kamu menjadi penegak Islam di bumi ini. Menjadi penghafal dan pengamal al Qur’an.
Menjadi penyampai kebenaran Islam dengan cara yang ahsan.
Bunda sangat berharap, bahwa kamulah yang akan menjadi ‘kunci’ bunda ke syurga.

Empat tahun usiamu, nak
untaian doa2 panjang selalu bunda panjatkan untukmu.
Dan rasanya tak pernah cukup.
Bagaimana bisa cukup jika yang bunda harapkan untukmu adalah kesempurnaan?
Meski bunda tau kelak akan ada ujian di hadapanmu, kelak akan ada kesusahan, masalah dan kesakitan, bunda selalu berharap kamu tidak merasakannya.
Selalu perih hati bunda membayangkan kamu dalam ujianNya.
Tapi, bunda sadar bahwa orang yang beriman akan diuji dan kelak kamu mungkin akan mengalaminya.
Karenanya bunda selalu berharap Allah akan melindungi dan menolongmu, nak.
Agar ujian tak membebanimu, agar kesusahan tak melemahkanmu, agar masalah tak membuatmu menyerah, dan agar kesakitan tak membuatmu menderita.

Empat tahun usiamu, nak
semoga masih panjang waktu kita untuk bersama di dunia
semoga kita diberi panjang usia dalam ketaatan dan ketaqwaan
dan kelak, semoga kita, bersama ayah, adik dan orang2 tercinta kita, bisa berkumpul bersama di syurga.
Aamiin ya Rabb….

[On ur birthday, March 18th 2013. And this is the song that since the first time i heard it, i always call it ‘your theme song’ http://m.youtube.com/watch?v=vafzteL3FBE&desktop_uri=/watch?v=vafzteL3FBE%5D

Leave a comment »

Maaf, saya belum jadi blogger yg baik

Dunia blog memang sudah saya kenal sejak lama. Tapi, komunitas2 yang ada baru saja saya ketahui beberapa bulan terakhir ini. Komunitas Multiply-er (MP-er) Indonesia saya kenal terlebih dahulu, lalu saya berkenalan dengan Kumpulan Emak2 Blogger (KEB) dan sekarang join di Warung Blogger.

Dari komunitas2 tsb saya menggagumi bagaimana para membernya berhubungan satu sama lain. Saling mengunjungi blog, saling komen (meski komennya juga suka out of topic), dan suka kopi darat (kopdar), hingga akhirnya bisa bersahabat selayaknya orang2 yang sering bersama di dunia nyata bahkan menjelma seperti sebuah keluarga.

Sayangnya untuk saat ini saya belum bisa melakukan ‘aktivitas’ selayaknya member komunitas blogger yang baik. Saya yang ‘sok sibuk’ ini masih belum pandai untuk mengatur waktu agar bisa menjadi blogger yang rajin berkunjung ke blog lain, numpang nge-like atau komen apalagi kopi darat.

Jangankan mau blogwalking, menyempatkan meng-update blog sendiri saja rasanya perlu perjuangan untuk mengatur waktunya agar bisa tetap konsisten.

Maklumlah, saya masih mengurusi dua balita sendiri dan rumah yang di setiap sisinya selalu terhampar mainan anak2 (termasuk tepung dan kertas2 robekan). Jadi, waktu ME TIME saya hanya ketika anak2 tidur. Itupun tidak bisa digunakan sepenuhnya untuk menulis dan berblogging ria. Loh, jadi curhat🙂.

Well, intinya saya minta maaf kepada bloggers yg berkunjung ke sini, yg berharap saya jg mengunjungi balik dan komen di blog anda, namun ternyata saya belum juga mampir apalagi komen.

Last but not least, terima kasih kepada yang sudah mengunjungi blog saya. Monggo kalau ada kritik dan saran.🙂

6 Comments »

Film kartun, tak semuanya untuk anak

Tulisan ini khusus untuk orangtua yang masih berpikir bahwa film kartun adalah film anak. Kenyataannya, tidak semua (bahkan banyak) film kartun yang tidak layak untuk ditonton anak. Sependek pengetahuan saya, film kartun bisa terbagi kpd beberapa kategori:

1. Film kartun untuk dewasa. Yang ini jelas2 terlarang untuk anak2. Krn meskipun dikemas dlm bentuk animasi, ceritanya adalah cerita dewasa. Bahkan ada pula film porno dlm btk film kartun.

2. Film kartun untuk anak. Seringnya film kartun dinyatakan sebagai film semua umur. Namun kita tidak bisa juga menyamaratakan semua anak menjadi satu kelompok usia saja. Karenanya, saya mencoba membaginya ke beberapa kelompok usia:

a. Balita: film kartun yang bisa ditonton oleh balita, menurut sy adalah film kartun dg dialog yang mudah dipahami, tidak ada kata2 kasar, tidak ada tokoh jahat. Kalaupun ada tokoh yg ‘tidak baik’, perannya minim dan ‘ketidakbaikannya’ bisa dijelaskan kepada anak kita dan anak kita pun mengerti. Contohnya film2 ini seperti Timmy time, Pocoyo, Monkey see monkey do, Doc Mcstuffin dan kebanyakan film2 di Disneyjunior (kalo anda langganan tv cable) menurut saya merupakan film2 yg cukup ramah anak.

b. Film kartun untuk anak (kid) usia 5-8 tahun, kira2 SD awal. Kemampuan bahasa dan komunikasi anak2 usia SD tentunya semakin meningkat. Karena film anak dengan sedikit ‘konflik/drama’ bisa dicerna oleh mereka, dan orangtua jg akan lbh mudah menjelaskan ‘konflik’ tsb. Misalnya film Finding Nemo dan Kungfu Panda.

C. Film kartun untuk ABG (usia 9-14). Usia ABG gini biasanya mulai baligh, mulai kenalan sama cinta2an. Mereka malah mungkin ga pengen nonton kartun. Tapi menurut saya, ada kartun yang lebih ‘pas’ ditonton oleh anak ABG daripada anak balita, spt Cinderella dan cerita Princess lainnya, juga serial Barbie. Kenapa? Karena cerita Princess2 ini selalu melibatkan Prince Charming, romance. Bahkan kalau ga salah ada adegan kissing-nya. Menjelaskan anak ABG tentang romance tentunya lebih mudah daripada kita harus ngejelasin ke anak balita.

D. Film kartun untuk remaja (15-17). Hmmm, sepertinya Shrek lebih pantas untuk remaja deh, mengingat kadang2 ada dialog yg ‘konyol’ dan kehidupan suami istri.

Yaa, kurang lebih begitulah. Soal batasan usia bisa beragam. Soal pemahaman anak juga pastinya beragam. Orangtua lah yang lebih mengetahui. Nilai2 yang ingin ditanamkan orangtua kepada anaknya juga berbeda sehingga berpengaruh pada tontonan yang diberikan kepada anaknya. Misalnya, saya memilih tidak memperkenalkan tokoh2 Princess atau boneka Barbie kpd anak saya, krn baju2 yang mereka kenakan terbuka. Itu adalah pilihan saya.

Jumlah judul film yang saya jadikan contoh juga hanya sedikit dan kebanyakan film2 lama. Ada film2 yang saya masih ragu untuk ditempatkan di kategori usia brp krn saya belum nonton atau lupa ceritanya. Tp yang jelas bukan untuk balita, spt Tom n Jerry (dan yang ‘agak sadis’ lainnya), Bernard Bear (dan yang tokoh utamanya sial melulu), Shaun the sheep (ada babi2 jahat, kucing ‘sadis’, majikannya Shaun yang ‘gak jelas’, ada ‘romance’), dan Ben 10 (dan serial berantem2 lainnya).

Yang terbaik memang meniadakan tv/tontonan. Apalagi untuk anak usia di bawah 3 tahun. Kalau memang tidak bisa 100%, ya harus diusahakan seminimal mungkin. Dan yang penting, orangtua nonton dulu filmnya supaya tau isi filmnya. Last but not least, dampingi anak menonton supaya kita bisa langsung memberi pemahaman sesuai nilai2 kita. Mudah2an bermanfaat.🙂

1 Comment »

Iwan Yuliyanto

Bismillah …

Melanjutkan berbagi tentang [Dreambook] Program Mencetak Anak Penghafal Al-Qur’an, kali ini saya ingin berbagi informasi sebuah film dokumenter yang inspiratif berjudul “KORAN BY HEART”.

Film dokumenter produksi HBO ini diproduksi tahun 2011 dengan sutradara Greg Baker menceritakan tentang perjalanan hafidz (penghafal Al-Qur’an) yang berkompetisi dalam Lomba Hafalan Al Qur’an Internasional tahun 2010 di Kairo, Mesir. Lomba ini diadakan oleh pemerintah Mesir setiap tahunnya. Film ini luar biasa dan sangat inspiratif buat para penghafal Al-Quran, sesuai dengan judulnya yang menyampaikan pesan bahwa mereka menghafal Al-Quran tidak sekedar mengandalkan otak melainkan juga menggunakan hati.

View original post 1,533 more words

Leave a comment »

Kenapa membenci PKS?

(Saya tau, ada yang rajin mengkritik, dikarenakan sayang atau kecewa. Namun ada juga yang membenci. Karenanya, saya jadi bertanya2, kenapa membenci PKS?)

Kenapa membenci PKS?
Karena kader wanitanya pake jilbab panjang2?
Karena melarang pacaran?
Karena melarang merokok?
Karena nggak menampilkan band2 musik terkenal apalagi dangdut ala Trio Macan?
Karena sukanya berdalil pake ayat2 Al Qur’an dan hadits?
Karena suka bawa2 agama?
Karena pemimpinnya banyak yang lulusan pesantren?
Karena getol banget mendukung UU AntiPornografi? Dan sekarang juga mendukung PP Tembakau?
Karena nyuruh kadernya ngaji tiap minggu?
Karena nyuruh kadernya bergaul dengan masyarakat sekitar, jalan2 ke pelosok kampung (yg sekarang beken dg sbtn ‘blusukan’), gabung dg PKK, majelis ta’lim atau sekedar ikut arisan RT?
Karena suka heboh sok repot bantuin korban bencana?
Karena suka merangkap jadi ‘biro jodoh’?
Karena milih dukung SBY instead of JK? Atau karena milih dukung Foke daripada Jokowi?
Karena ternyata ada kadernya yang (diduga) korupsi padahal katanya partai bersih?
Karena ikut berpolitik? (eh, namanya juga parpol ya?)
Karena…. apalagi ya? Ada yang mau nambahin/jawab?

7 Comments »

Kenapa saya mau jadi kader PKS?

Setiap kasus menghantam PKS heboh di media massa, setiap saat pula saya membaca pertanyaan/pernyataan seperti ini, “Kasian grass root-nya berjuang, pemimpinnya mengkhianati”, atau “Orang2 bawah berjuang, yang di atas bersenang2, atau “Masih mau aja dimanfaatin sama partai”, “Apa bedanya dengan partai lain?”, atau kalimat2 lain sejenisnya.

Sebagai ‘orang bawah’, saya lalu bertanya pada diri sendiri, “Eh iya, ngapain juga ya, gue masih ngikut PKS?”

Sejak saya berkenalan dengan PKS, menurut saya ada 2 hal yang sampai sekarang masih menjadi jati diri PKS, yaitu tarbiyah dan dakwah.

Untuk definisi dan makna tarbiyah selengkapnya bisa dibaca di sini http://id.m.wikipedia.org/wiki/Tarbiyah . Jika saya boleh ringkas, maka ringkasan dari definisi dan makna tarbiyah adalah proses mendidik, memperbaiki, meluruskan yang salah menjadi benar, yang tidak tahu menjadi tahu, membimbing dan mengembangkan baik secara jasad, akal dan jiwa, dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan, disertai kasih sayang, kelembutan hati, perhatian, bijak dan menyenangkan, dalam rangka mencapai kesempurnaan fitrah manusia, memberi kesenangan dan kemuliaan tanpa batas sesuai syariat Allah SWT.

Masya Allah…makna tarbiyah yang luar biasa. Tapi inilah jantung perjuangan dakwah bagi para kader PKS. PKS ‘mewajibkan’ kader2nya baik itu yang ada di grass root sampai kepada para pimpinan untuk mengikuti proses tarbiyah. Sebagai gambaran, tarbiyah yang dilakukan adalah melalui pembentukan kelompok2 ‘ngaji’, idealnya terdiri dari 5-10 orang, namun tidak menutup kemungkinan kurang/lebihnya. Kenapa dibuat kelompok2 kecil? Untuk mempermudah proses transfer ilmu, lebih efektif, dan tentunya lebih mudah mengevaluasi. Selain itu, kelompok kecil tentunya juga mempermudah dalam memperkokoh uhkuwah, melibatkan kasih sayang dan perhatian. Kalau boleh dibandingkan dengan kelas2 sekolah, tentunya guru akan lebih mudah mentransfer ilmunya, mengenal, memperhatikan dan memberi kasih sayang kepada muridnya, jika jumlah muridnya lebih sedikit, bukan begitu?

Dalam tarbiyah, juga ada semacam kurikulum materi2 tarbiyah. Kurikulum ini dibuat berdasarkan 10 karakter Islam yang ingin dicapai dengan tarbiyah, yaitu:
1. Akidah yang lurus (Salimul Aqidah)
2. Ibadah yang benar (Shahihul Ibadah)
3. Akhlaq yang kokoh (Matinul Khuluq)
4. Jasmani yang kuat (Qowiyyul Jismi)
5. Intelek dalam berpikir (Mutsaqqoful Fikri)
6. Berjuang melawan hawa nafsu (Mujahadatun Linafsihi)
7. Pandai menjaga waktu (Harishun ala waqtihi)
8. Teratur dalam suatu urusan (Munazhzhamun fi syuunihi)
9. Mempunyai kemampuan usaha sendiri/mandiri (Qodirun ala kasbi)
10. Bermanfaat bagi orang lain (Nafi’un Lighoirihi)

Sempurna sekali tujuan tarbiyah bukan? Karenanya tarbiyah tidak mengenal kata libur ataupun cuti. Tarbiyah baru selesai ketika seseorang sudah kembali ke sisi Allah.

Tarbiyah yang dilakukan oleh kader PKS bersifat terbuka. Siapapun yang haus akan nilai2 agama, yang ingin menambah pengetahuan Islamnya dan yang ingin memperbaiki dirinya meskipun mereka tidak suka dengan partai/politik boleh banget kalau mau ikutan tarbiyah sama kader PKS. Gak akan ada pemaksaan untuk memilih (kader) PKS atau ngikutin pilihan PKS di pemilu/pilkada.

Lalu bagaimana dengan dakwah? Sebelum berkenalan dengan tarbiyah, saya berpikir bhw dakwah itu adalah urusannya ustadz/ah, urusannya para ulama dan mereka yang bergelar sarjana Agama dan sejenisnya. Namun, tarbiyah membuat mata saya terbuka bhw dakwah itu adalah tugas semua muslim. Dakwah bukanlah sekedar ceramah dengan menggunakan ayat2 Al Qur’an. Tapi dakwah juga berarti berbuat kebaikan, menebar manfaat, berhubungan baik dengan orang lain, bersilaturahmi, meluruskan/memperbaiki yang salah, mengajak orang lain dalam kebaikan, mencegah kemungkaran dan aktivitas lainnya yang bermuatan positif.

Sama seperti tarbiyah, dakwah juga tidak mengenal kata libur. Aktivitas2 sosial dan bersilaturahmi dengan masyarakat sekitar dilakukan tanpa melihat momen Pemilu/pemilukada. Kader diminta kapanpun dan dimanapun berdakwah.

Dalam pandangan saya, tarbiyah adalah jantung partai ini sementara dakwah aliran darahnya. Keduanya lah yang membedakan dengan partai lain. Keduanya adalah yang menghidupkan partai ini. Tanpa keduanya partai ini mati. Bukan ‘gugur’nya para pimpinan, bukan larinya para kader yang mematikan PKS. Karena, selama di dalam partai ini menggeliat tarbiyah dan dakwah karena Allah, selama itu pula Allah akan mengganti generasi yang hilang/gugur/pergi dengan generasi yang lebih baik.

Dan karena tarbiyah dan dakwah inilah saya mencintai partai ini, saya masih disini. Bukan karena tokoh2nya, pimpinan2nya dan para ustadz/ustadzahnya. Kalaupun saya mencintai mereka, itu adalah karena mereka masih menggaungkan semangat tarbiyah dan dakwah karena Allah. Dan karena cinta yang begitulah, saya memahami dan merasakan kesedihan dan kesakitan jika mereka disakiti dan dizholimi. Karena cinta yang hanya karena Allah pulalah, kami akan bersedih dan menangis jika mereka berbelok arah, berbuat kesalahan/maksiat hingga gugur di jalan dakwah, bukannya mentertawakan atau malah berbahagia.

Mungkin akan banyak yang berpendapat, “Sebegitu indahnya tarbiyah dan dakwah, kenapa harus berpolitik yang identik dengan ‘kotor’? Kenapa ‘kelompok’ ini tidak menjadi ormas saja atau organisasi lain? ” Mmmm, sepertinya ngomongin politik akan lebih panjang lagi. InsyaAllah saya akan tulis sependek pengetahuan saya di tulisan yang lain.

7 Comments »

Sekilas tentang tahsin

Waktu itu saya pernah cerita tentang senengnya saya karena akhirnya bisa ikut kelas tahsin di sini https://zehanachda.wordpress.com/2012/09/26/belajar-tahsin-yuuukk/. Agak mengejutkan kalo dari statistik yg tertera di blog saya, ternyata postingan saya yang tahsin ini termasuk yang paling banyak dibaca pengunjung blog. Karenanya, sekarang saya mau bercerita lagi tentang kelas tahsin yg saya ikuti. Sedikit ilmu yang saya peroleh ingin saya bagi disini sebagai gambaran mengenai kelas tahsin.

Yang dipelajari di kelas tahsin sebenarnya adalah ilmu tajwid Al Qur’an. Secara bahasa, tajwid juga diartikan sbg tahsin, yaitu memperbaiki. Sementara secara istilah, tajwid didefinisikan dengan membaca Al Qur’an dengan benar sebagaimana bacaan Rasulullah SAW dan para sahabatnya RA dg cara:

1. Mengeluarkan huruf dari makhrajnya (tempat keluarnya) = makhorijul huruf.
2. Memenuhi sifatnya (sifatul huruf).
3. Memperhatikan hukum bacaan.

Para ulama salaf dan kholaf sepakat tentang wajibnya Tajwid Al Qur’an. Hukumnya untuk teori adlh fardhu kifayah, sementara untuk praktek adlh fardhu ‘ain.

Dari definisinya, jelas bahwa ada 3 hal pokok yang dipelajari dalam kelas tahsin. Bukan sekedar supaya orang bisa baca Al Qur’an tapi supaya bisa membaca dengan benar. Saya uraikan sedikit satu persatu tentang 3 hal ini:

1. Makhorijul Huruf
Setiap huruf hijaiyah memiliki tempat keluarnya masing2. Ada yang keluar dari tenggorokan, lidah dan bibir. Yang dari tenggorokan, ada yang tenggorokan bagian ujung, tengah dan pangkal. Yang lidah pun berbeda2. Apakah dari 28 huruf Hijaiyah berarti keluar dari 28 tempat berbeda? Tidak, beberapa huruf memiliki tempat keluar yang sama, namun memiliki sifat yang berbeda. Contoh: huruf tsa, dza, dzho keluar dari tempat yang sama, yaitu ujung lidah bertemu ujung gigi depan yang atas. Namun mereka memiliki beberapa sifat yang berbeda adapula yang sama.

2. Sifatul huruf
Secara umum ada 5 sifat huruf yang memiliki lawan (berarti total ada 10 sifat) dan 7 sifat yang tidak memiliki lawan, total ada 17 sifat huruf. Kita ambil contoh huruf yang sama dengan yang di atas. Huruf tsa sifatnya keluar nafas, kedua huruf lainnya memiliki sifat lawannya, yaitu tidak keluar nafas. Bedanya dza dengan dzho adalah dza sifatnya lidah turun sedangkan untuk dzho lidahnya naik ke langit2.

3.  Hukum bacaan.
Hukum bacaan ini mungkin yang paling umum diketahui orang. Kebanyakan orang mungkin tahu kalau baca Al Qur’an ada panjang-pendeknya namun berapa panjang harakatnya dan termasuk hukum mad yg mana mgkn banyak yg blm paham. Hukum bacaan yang mendasar lainnya adalah meliputi izhar, idghom, iqlab dan ikhfa. Hukum2 bacaan lainnya masih banyak lagi.

Begitulah sekilas tentang apa yang dipelajari di kelas tahsin. Bingung? Tidak puas? Alhamdulillah🙂 Karena memang menurut saya, pelajaran ilmu tajwid tidak bisa dilakukan hanya dengan membaca atau menonton VCD/DVD melainkan harus menghadiri pertemuannya. Guru tahsin berulangkali mendengarkan dan mengkoreksi bacaan kita. Praktek membaca lebih diutamakan daripada menghafal teori2nya. Mudah2an setelah baca tulisan ini, saudara2 saya yg muslim jadi semangat belajar ilmu tajwid untuk memperbaiki bacaan Al Qur’an-nya.

2 Comments »

Bunda, dokter pertama di kala anak sakit

[Mulai ditulis beberapa hari yg lalu, mencuri waktu ketika menggendong Ziqri yg terlelap. Kalau ga sambil melakukan ‘kegiatan’ lain, rasa penat dan pegal makin terasa.]

Kalau dihitung2, dikurangi wkt mandi dan tidur, juga ke kamar mandi, rasa2nya sudah 3 hari 3 malam ini (bisa jadi lebih) saya menggendong Ziqri (2 th), putra kedua saya. Ziqri batuk pilek dan demam, penyakit biasa untuk anak2 usia balita, namun untuk kali ini tidak biasa bagi saya. Biasanya kalo terserang batpil, Ziqri akan rewel/demam hanya dalam 1 hari. Setelah itu dia akan ceria seperti biasa meski hidung masih meler atau batuk sesekali sampai akhirnya sembuh total dalam 2-7 hari. Mbak Shaznin yang jg kompakan batpil, hanya demam dan lemes sehari semalam. Sementara Ziqri, udah 4 hari dia batpil plus demam naik turun. Hari2 maunya digendong terus. Tidak mau makan, hanya mau airputih dan ASI.

Hati ibu mana yang ‘tega’ mendengar batuk bertubi2, nafas yang susah karena mampet, blm lagi panas badannya begitu terasa di dada saya. Matanya sayu, keliatan makin kurus dan ga bergairah untuk main. Kalau saya ceritakan tentang kondisi Ziqri ke orangtua saya, pastilah mereka mendesak saya untuk pergi ke dokter dan minumkan obat. Disinilah prinsip RUM/RUD saya diuji. Diuji bukannya oleh keinginan memberi obat batuk pilek. Melainkan diuji oleh ‘omongan/komentar’ orang lain. Dari yang nyaranin kasih obat ini itu sampai yang mempertanyakan kenapa ga ke dokter, kenapa ga dikasih obat? Di tengah kondisi hati yang ‘nelongso’ krn melihat anak sptnya menderita, pertanyaan2 spt itu terasa membebani saya. Bahkan terkadang saya merasa spt dihakimi. Tega benerrr sama anak sendiri.

Secara lahiriah, orang mungkin akan menilai saya tenang atau malah cuek dg sakitnya anak. Padahal, di dalam hati saya ketar-ketir, gelisah dan bertanya2, “Kenapa kok lebih parah daripada biasanya?” Rasanya ingin segera ke dokter, apalagi mengingat rumah saya yg cukup dekat dengan klinik Markas Sehat dimana dokter2nya adalah dokter penganut RUM/RUD.

Namun, bukannya malah langsung ke dokter,saya akhirnya meneguhkan kembali diri saya untuk mengobservasi sakitnya Ziqri dan mencari2 info melalui internet. Thanks to http://www.milissehat.web.id, juga mayoclinic.com yang menjadi kamus penyakit saya. Inilah ‘diagnosa’ saya hasil observasi dan liat2 ‘kamus penyakit’:

1. Demam yg naik turun sekedar pertanda bahwa virus batuk pilek memang masih ada dan daya tahan tubuh Ziqri sedang bertarung melawannya. Batuk pilek tidak perlu obat, cukup cairan. Alhamdulillah ASI dan air putih lancar. Jika pilek membuat mampet, bisa terapi uap di rumah atau dibantu dg tetesan Nacl (merk Breathy). Demam, jika memang anak sdh rewel (tidak nyaman), baru dikasih paracetamol (merk yang aman: Tempra anak). Tapi anaknya ga mau minum obat, jd saya ‘genjot’ lagi asupan cairannya.

2. Tidak dehidrasi, pipis masih banyak.
3. Ziq tidak mau makan, kemungkinan tenggorokan sakit atau malah mau tumbuh gigi (saat itu saya belum bisa melihat apakah ada gigi baru yg mau tumbuh). Jika memang radang, juga tdk perlu antibiotik. Kalau krn tumbuh gigi, berarti ‘normal’.
4. InsyaAllah bukan demam berdarah. Krn biasanya DB tidak disertai dengan batpil.
5. Campak atau roseola…belum ada bintik2 merah, baik ketika masih demam ataupun ketika sedang turun.

Kesimpulannya, Ziqri masih dlm kondisi sakit yang normal dan belum membutuhkan obat ataupun perawatan dr dokter scr khusus. Bunda hanya perlu sedikit bersabar menghadapi kerewelannya dan meneguhkan hati melihatnya sakit.

Daann…alhamdulillah, akhirnya di hari ke 5, bunda melihat ‘putih2’ di gusi gerahamnya. Yippiee…berarti demam dan ga mau makannya krn mau tumbuh gigi geraham, yg memang katanya lebih bikin senut2 dan demam, dibanding gigi2 lainnya. Ya, selama ini ziqri memang ga pernah demam kalau mau tumbuh gigi, beda sama mbak Shaznin yg dulu sempet bbrp kali demam.

Pfffiuuh lega. Hari ini, hari ke 7 sejak Ziqri mulai sakit. Makannya baru sedikit2…masih gelendotan, demam sudah hilang dan sudah main sepeda di luar rumah. Sehat terus ya, nak🙂

Jadi, kalau boleh saya simpulkan, ada 3 hal utama yang harus dilakukan oleh orangtua ketika anak sakit: tenang, observasi (sambil ngubek2 referensi) dan lakukan treatment yang memang diperlukan (jangan sampai overtreatment). Semoga bermanfaat.🙂

Leave a comment »

Ketika Bunda Menghadapi Tantrum

[Ini adlh ‘edited version’ dr Bunda vs Tantrum (1) dan (2)]

Dalam dunia parenting dikenal adanya istilah temper tantrum. Kalau definisi saya sih begini: tingkahlaku/perbuatan marah2 sambil nangis teriak2 yang biasanya dilakukan anak2 usia balita.
Kali ini saya pengen cerita pengalaman pribadi saya menghadapi tantrumnya Shaznin, sulung saya yg berusia 3,5 th.
Sebelum kita ngomongin cara menghadapi tantrum, kita harus tau dulu penyebab anak tantrum. Kalau dr pengalaman saya, anak tantrum kalau:
1. Keinginannya tidak kita penuhi.
2. Kesenangannya dihentikan secara semena2 oleh kita. Anak lagi asik main air, kita langsung angkat. Anak lagi nonton tv, kita langsung matiin.
3. Ngantuk dan lelah.Kalo ini penyebab tantrum, saya cuma bisa kasih satu solusi: ajak anak tidur/istirahat🙂.
Penyebab 1 dan 2 seharusnya bisa dihindari dengan komunikasi yang baik. InsyaAllah cerita ttg komunikasi di lain jurnal aja ya, sekarang cerita ttg tantrum dulu🙂.

Jadi, beginilah saya menghadapi tantrum anak saya:
1. Saya bicara dengan nada tenang kepada anak saya, “Bicaranya baik2, diam dulu, lalu bicara sama bunda baik2” atau “Ngomong baik2, mbak. Kalau sambil nangis dan teriak2 bunda ga ngerti.” Sambil ngomong begitu saya menghadap anak saya (saya tatap matanya dan kalau dia menghindar dr tatapan mata saya, biasanya saya minta dia utk melihat saya), posisi sejajar (saya berlutut) dan kadang ada sentuhan. Bisa dengan memegang tangannya atau elus2 pipi/rambutnya. Kalau tantrumnya masih level rendah, cara pertama ini langsung ampuh. Ketika dia tenang kami langsung berdiskusi ttg apa yg diinginkannya dan saya menjelaskan knapa sy tdk membolehkannya. Intinya, negosiasi, win-win solution, anak senang, bunda jg senang.

2. Diam atau lakukan aktivitas yg ingin dilakukan / sdh anda lakukan sebelum anak tantrum.
Kalau level tantrum sdh menengah ke tinggi, anak sy akan menangis lbh keras jika disuruh bicara baik2. Kalau saya memaksa memberi penjelasan dlm keadaan dia menangis keras, percuma. Dia tidak mau dengar, pdhl volume suara sy sdh makin tinggi. Dia juga akan meninggikan volume tangisan dan teriakannya. Saat itulah saya memutuskan untuk diam. Jika saya sedang menyusui adiknya, saya lbh suka memejamkan mata saya. Kalau saya lagi masak, sy tetap masak. Aksi diam ini bukannya sekedar diam, tp saya berusaha mengirimkan pesan melalui bhs kalbu sya bhw bunda ingin bicara baik2 denganmu, nak. Sambil diam ini jg saya sambil berpikir apakah saya sudah benar utk tidak memenuhi keinginannya? Apakah yg saya larang adalah sesuatu yg memang benar2 hrs saya larang atau sebenarnya bisa saya kasih izin dg syarat2 tertentu. Saya juga berpikir akan kata2 baik yg harus dikeluarkan ketika kami akhirnya bicara. Sebelum/ketika sedang berlangsung aksi diam ini, saya jg memberitahu dia lg bhwa saya baru akan bicara lagi dengannya kalau dia sudah mau diam, berhenti menangis teriak2 dan mau mendengarkan.

3. Time Out
Anak belum juga mau diam dan mereda. Dia malah semakin marah dg aksi diam kita. Kita merem, dia teriak, “Jangan mereeemm, jangan tiduuur”. Kita masak, makan, ke kamar mandi, dll, dia mengikuti dan meraung2 disebelah kita. Kadang sambil narik2 baju atau ada juga anak yg suka pukul/tendang. Biasanya situasi seperti ini membuat ibu terpancing emosi, bawaannya pengen nyubit, pengen bentak. Nah, inilah waktunya time out. Time out versi saya adalah memisahkan kami berdua. Caranya time out, saya mendudukkan Shaznin di kursi khusus, menyuruhnya tetap duduk disitu sampai tenang baru kami bicara sementara saya di ruangan lain. Apakah anak akan langsung diam dan tenang? Ooo, tentu tidak. Dia akan mengamuk, teriak2, mencoba berlari mengejar kita. Di saat itulah konsistensi kita sedang diuji. Apakah kita bertahan dg time out itu atau kita luluh dg teriakan dan tangisnya yg semakin memilukan dan menyayat hati. Jujur, gak tega. Tp saya hrs menunjukkan bhw ketika saya mensyaratkan dia utk tenang agar bisa bicara, itu adalah syarat serius, bkn ancaman, bkn gertakan yg segera luluh dengan tangisannya. Supaya anak juga bisa mengerti bahwa untuk mendapatkan keinginannya, bukanlah dg menangis teriak2 melainkan dg bicara baik2. Oiya, time out ini juga ada wktnya ya. Pernah baca kalau sebaiknya time out adalah selama beberapa menit sesuai usia anak. Jd kalo Shaznin usia 3,5 th, sy kasih time out 3,5 menit. Kalau wkt time out sudah habis dan dia blm juga reda, sy akan bertanya, “Sudah siap bicara sama bunda?”. Jika tanggapannya masih dg tangis teriakan, saya tambah 3,5 menit lg. Alhamdulillah biasanya ga perlu nunggu time out kedua habis, Shaznin sudah mau tenang.

4. Kembali bicara baik2
Saat anak sudah tenang, ibunya jg tenang, inilah saatnya bicara. Biasanya saya mulai dg mengajak Shaznin berpelukan meski Shaznin sering menolaknya. Maklum meski sdh tenang, dia masih ‘marah’ dg saya. Saya ambil posisi sejajar dengannya, menatap matanya, dan saya pegang tangannya. Saya memberi penjelasan, kami bernegosiasi dengan baik2. Jika penyebab tantrumnya sy sadari adalah kesalahan saya, saya minta maaf lalu mengajaknya berpelukan lagi dan kasih dia ciuman.

Begitulah pengalaman saya menghadapi tantrum. Alhamdulillah sy lihat Shaznin sdh mulai mengerti. Kalau dia mau marah/nangis, dia bisa langsung tenang jika saya memintanya bicara baik2. Kalau akhirnya tantrum dan sampai time out, Shaznin cepat menyadari bhw dia hrs bicara baik2 jika ingin time out berakhir. Saya percaya bhw kami berdua sama2 belajar berkomunikasi dan kami sedang berproses menuju yang lbh baik.

2 Comments »

RedCarra's Notes

Journal of Creative Writing, Blogging, Graphic Design and Daily Life

MAMAKU KOKI HANDAL !

walaupun masakan mama nggak sekece masakan koki hotel bintang 5, tapi masakan mama tetap paling penuh cinta. aku cinta masakan mamaku!

ruang cerita shant

apa adanya bukan seadanya

CENDEKIA

Kids and Junior Science Center

Syauqiya

My Life, My inspiration

Ellina Supendy

My Life and My World

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Dina Y. Sulaeman

About Life, Parenting, and Motherhood

catatan mama nisa

Jadi Ibu di Jepang.

Mencoba Sakinah

----- Keluarga KamiL -----

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Enlighten & Empower

Which of your Lord's Blessings would you deny...

miapiyik

A topnotch WordPress.com site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

(new) Mbot's HQ

Ocehan gak guna seorang pegawai kantoran biasa.

teman imaji

Invisible yet not Impossible. I exist.